Pernah Maksiat Lalu Menikah, Apa Pernikahannya Di Berkahi? Berikut Penjelasannya

Catatan Sehari Hari May 31, 2016
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Ada seseorang memiliki masa lalu yang kelam. Banyak dosa dan kemaksiatan yang telah ia lakukan, bahkan di antaranya dosa besar. Namun –Alhamdulillah- sekarang ia sudah taubat dan menikah. Hanya saja ia diliputi rasa takut, apakah pernikahannya akan diberkahi? Apakah ia akan dihukum di dunia ini akibat dosa-dosanya di antaranya dalam kehidupan berkeluarga sekarang?
Seseorang yang telah terjerumus ke dalam perbuatan dosa lalu sadar akan kesalahannya dan besarnya dosa yang telah diperbuat, ia tidak boleh berputus asa dari rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah akan mengampuni dosanya dan tidak akan menghukumnya dengan dosa-dosanya terdahulu sesudah bertaubat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Zumar: 53)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Bahkan terkadang, kondisi seseorang pasca berbuat dosa yang diikuti taubat itu lebih baik daripada saat ia sebelum berbuat dosa, sebagaimana keadaan Bapak kita, Nabi Adam ‘Alaihis Salam.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang perbedaan kondisi Nabi Adam ‘Alaihis Salam sebelum beliau melakukan kesalahan dan sesudahnya. Dikatakan kepada beliau saat masih berada di surga:
إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى
“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thaahaa: 118-119)
Firman Allah yang lain,
ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى
“Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaahaa: 122)
Kemudian beliau (Ibnul Qayyim) mengomentari perbadaan keduanya, bahwa kondisi pertama berkaitan dengan makan, minum, dan menikmati hidup. Sedangkan kondisi yang kedua beliau menjadi hamba pilihan Allah dan mendapat hidayah. “Betapa jauhnya perbedaan keduanya,” selesai keterangan beliau.
Maka janganlah ia terlalu khawatir, karena siapa yang bertaubat dari dosa dan kembali kepada Allah dengan menjalankan ketaatan serta mengisi sisa umur dengan kebaikan sicaya sisa umurnya akan diberkahi. Siapa yang telah bertaubat maka dia tidak akan dihukum dengan dosanya.
Semua ini merupakan bagian dari luasnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan lebih dari itu, dengan kemurahan-Nya, Allah akan mengganti keburukan di masa lampau dengan kebaikan.
Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan beberapa dosa besar, yakni: syirik, membunuh, dan berzina:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)
Dari Abu Farwah rahimahullah, dia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata: “(Ya Rasulullah!) bagaimana menurutmu, jika ada seseorang yang mengerjakan semua perbuatan dosa dan tidak meninggalkan satu perbuatan dosa pun serta tiada keinginan untuk berbuat dosa kecuali ia lakukan. Apakah ada taubat baginya untuk semua itu?”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Apakah kamu sudah masuk Islam?”
Ia menjawab, “Adapun saya bersaksi tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”
Beliau bersabda: “Berbuat baiklah dan tinggalkan perbuatan buruk, maka Allah akan menjadikan semua perbuatan buruk itu sebagai kebaikan bagimu.” Ia berkata: “penghianatan dan kejahatanku?” Beliau menjawab: “ya.” Ia terus menerus bertakbir hingga tidak terlihat lagi.” (HR. Thabrani)
Ringkasnya, dengan taubat yang telah dilakukan maka kemaksiatan-kemaksiatan yang dahulu pernah dikerjakannya tidak akan menghalangi keberkahan dalam keluarga yang dibina. Sungguh rahmat dan ampunan Allah sangat luas, maka janganlah berputus asa. Wallahu Ta’ala A’lam.
(Sumber:http://www.reportaseterkini.net)

Leave a Comment